Sonia
begitulah orang biasa memanggil namanya. Entah apa yang membuatku bisa berteman
akrab dengannya. awal pertemuan ku tak peduli dengan kehidupannya. Awal
pertemuan ku merasa biasa-biasa saja seperti berteman dengan teman-teman yang
lainnya. Awal pertemuan ku tak menyangka kalau bisa bertemu kembali setelah
adanya perpisahan Kemah Bhakti Perti di kampung Pramuka Malang. Entah apa yang
membuat kita bisa bertemu kembali di Kampung Inggris Pare. Awal kedatangannya
entah apa yang membuatku bersedia menjemputnya di tempat pemberhentian bus,
karena ku terbiasa menyarankan orang untuk datang ke kursusan dengan ojek
ataupun becak. Mungkin dari peretemuan kedua inilah kumulai akrab dengannya.
Ya sonia
adalah anak desa dan kuliahnyapun ada di daerah. Tempat kuliahnyapun tak
sebesar dan tak begitu terkenal seperti Universitas Negeri ataupun Universitas
Swasta yang ada di Perkotaan. Profesinyapun sebagai guru yang ada di dekat
rumahnya dan tak banyak cerita lagi yang kuketahui tentangnya. Ya itulah profil
singkat sonia yang tak begitu menarik untuk kutelusuri. Tapi entah kenapa aku
jadi merasa salut dan bangga pada Sonia setelah mulai mengenal lebih lama serta
menyaksikan perjuangannya dalam mengejar cita-ita serta impian-impiannya.
Awal
persepsiku tentang anak yang kuliahnya hanya di daerahnya sendiri (khususnya
daerah yang masih belum menjadi Kota) adalah anak yang sedikit menutup diri
dengan dunia pendidikan di luar daerahnya, anak yang enggan untuk menambah
wawasannya di luar, anak yang hanya berada di titik nyaman untuk berada di
daerahnya sendiri dan masih banyak lagi persepsi-persepsi negatifku yang lain.
ya itulah tadi persepsi-persepsiku yang salah setelah ku mengenal Sonia. Sonia
adalah anak yang berbeda sekali dengan persepsi-persepsi yang telah lama
melekat di pikiranku. Sonia menjadikaknu sadar akan besarnya jasa anak daerah yang setia memajukan daerhanya
sendiri.
Kesan
pertama yang kudapatkan dari Sonia dan membuatku salut adalah dengan berani mengambil
langkah untuk menuntut ilmu di Pare Kampung Inggris. Dia merelakan waktu libur
mengajarnya untuk dipergunakan menuntut ilmu di Pare Kampung Inggris demi
meningkatkan pendidikannya untuk bisa melanjutkan S-2 di UIN Sunan Kalijaga. Sonia
adalah anak yang menempuh pendidikannya hanya di Universitas Kecil yang ada di
daerahnya, tapi dia benar-benar berani bertarung di medan pertempuran untuk
memberantas kebodohan. Waktunya dihabiskan untuk mendedikasikan dirinya di
dunia pendidikan.
Hal ini
yang membuatku sadar bahwa tidak semua anak yang kuliahnya ada di daerah itu
menjadi anak yang tertinggal dan enggan dengan wawasan-wawasan baru yang lain.
Tidak semua anak yang kuliahnya di daerah itu hanya berpuas diri dengan pendidikan
di kampus asalnya saja,. Tidak semua anak yang kuliahnya di daerah itu
mempunyai aktivitas yang monoton. Dari sini akhirnya aku sadar bahwa kemajuan
dan kesuksesan seseorang tidak tergantung dari kampus dimana seseorang itu
dididik, tetapi semua tergantung dari niat masing-masing individu untuk tetap bisa
mencapai kesuksesan yang diingikan.
Hal kedua
yang membuatku salut dengan Sonia adalah terkait menejemen waktu yang sangat
hebat. Dia mampu membagi waktunya secara baik untuk mengajar di Sekolah, mengajar
di tempat Bimbel, menyelesaikan studi S-2nya serta masih mampu membagi waktunya
untuk privat Bahasa Inggris. Dia relakan waktunya setiap hari jum’at malam
sampai minggu malam untuk menuntut ilmu di Kota lain demi sebuah ilmu di
Jenjang S-2 di UIN Sunan kalijaga Yogyakarta. Dimana jarak tempuh dari rumahnya
menuju Kota tersebut juga lumayan jauh sekitar 4 jam. Selain itu dia relakan
juga waktu senggangnya yang malam hari di hari Sabtu dan minggu malam untuk
privat Bahasa Inggris dan baru setelah selesai Privat dia pulang ke daerahnya
dan paginya langsung kembali mengajar di Sekolah. Aktivitas utamanya adalah
mengajar di Sekolah tapi dia tidak hanya berpuas diri mengajar di Sekolah saja,
tetapi seusai pulang mengajar di Sekolah dia langsung mengajar lagi di Bimbel
Ganesha Operation sampai Malam hari.
Dari
aktivitasnya Sonia semakin membuatku sadar betapa persepsi-persepsiku salah
semua. Dia mampu menyadarkanku bahwa dia sangat kreatif dan sangat mahir dalam
bidang apapun. Dia bisa survive dengan kondisi yang minim dan mampu bekerja
keras untuk menggapai cita-cita yang diinginkan. Dia begitu semangat untuk
kehidupan dan pendidikan yang lebih baik. Dia begitu hebat dalam bertarung
memperjuangkan sesuatu untuk kebaikan. Dia begitu tangguh untuk menghadapi
rintangan-rintangan yang menghambat karirnya. Dia begitu menarik untuk menjadi
sumber inspirasi lingkungannya.
Terimakasih
Sonia sudah menjadi teman yang selalu memotivasi. Aku bangga bisa kanal
denganmu. Aku salaut atas usaha yang kau lakukan. Aku akan terus berjuang
sepertimu. Ku berdoa cita-citamu terkabul untuk menyelesaikan studi lanjutu di
jenjang S-2 dan akan melanjutkan lagi ke janjang S-3. Selamat berjuang Sonia dan
selamat mengukir prestasi dan tetaplah menjadi sumber inspirasi untuk semuanya.
Salam
sukses

