Sabtu, 12 Agustus 2017

Terbiasa Dimanja Senior




Awal datang ke Jogja untuk lanjut kuliah lagi salah satu faktor pendorongnya juga melihat senior-senior saya di S-1 mampu  melanjutkan kuliah lagi ke jenjang S-2. Ada tiga senior saya yang melanjutkan kuliah lagi. Ketika saya di S-1 saya hanya mengenal salah satu dari mereka. Dua senior saya satunya hanya saya dengar namanya tapi tidak pernah bertemu selama kuliah di S-1. Tiga senior saya mengambil jurusan yang berbeda-beda. Ada yang mengambil jurusan ilmu komunikasi, ada antropologi dan ada yang ilmu pariwisata. Saya menjadi akrab dengan senior-senior saya, karena selama masa riwa-riwi pendaftaran, saya selalu singgah di tempat senior-senior saya. Hubungan saya dan senior-senior saya menjadi lebih akrab lagi, ketika saya dinyatakan diterima di program pascarsarjana dan saya masih belum jelas tinggal dimana akhirnya saya memilih untuk singgah lagi di tempat senior-senior saya.

Senior-senior saya yang sudah menetap duluan di Jogja saat itu sudah mengontrak rumah. Dimana rumah yang dikontrak oleh senior saya saat itu hanya ada dua kamar, satu ruang tamu dan satu ruang khusus untuk lemari-lemari pakain dan kardus-kardus saja. Satu kontrakan saat itu dihuni oleh empat orang. Kebetulan selain tiga senior saya yang tinggal di kontrakan itu ada salah satu senior juga akan tetapi berbeda kuliah S-1nya. Mbak yang berbeda kuliah S-1nya berasal dari Pekan Baru yang sama-sama sudah mengambil program pascasarjana. Ketika awal saya datang ke kontrakan itu, awalnya hanya sementara saja untuk tinggal disitu sambil mencari kos-kosan yang cocok. Saya juga merasa tidak enak apabila hanya membuat sesak dan konsentrasi belajar senior saya terganggu karena keberadaan saya ada disitu. Akan tetapi, selama beberapa hari saya menumpang di kontrakan senior saya dan mencari kos-kosan, saya masih belum saja cocok dengan kos-kosan yang ada di dekat kampus. Salah satu penyebabnya, harga kos-kosan di dekat kampus harganya lumayan agak mahal. Kedua, saya membayangkan tinggal di kos-kosan seorang diri betapa membosankannya, ketika saya masih terbiasa dengan kebiasaan saya yang selalu berkelompok. Akhirnya, senior-senior saya juga tidak membiarkan saya tinggal di kos-kosan sendirian. Senior-senior saya menyuruh saya untuk tinggal bersama  di kontrakan itu. Kebetulan, kontrakan itu memiliki ruang tamu yang cukup luas, sehingga kamar hanya difungsikan untuk istirahat saja dan sekedar ingin bermalas-malasan saja. Senior-senior saya lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang tamu untuk sekedar membaca, mengetik atau mengerjakan sesuatu lainnya. Kalaupun senior saya mengerjakan beberapa urusannya di kamar, biasanya ketika seorang diri saja ataupun ketika sudah bosan mengerjakan di ruang tamu. Kebetulan selama saya tinggal disitu saya hanya mengganti uang listrik saja. Itupun, uang listrik habisnya hanya sedikit sekali, satu bulan hanya mengeluarkan uang sekitar 70 ribuan saja paling mahalnya. Saya tidak membayar uang kontrakan hampir satu semesteran kurang. Kebetulan senior-senior saya tidak mau diganti uang sewa rumahnya, karena dua dari senior saya mendapatkan beasiswa, jadi untuk urusan rumah dapat dana hibah dari senior-senior saya itu. Saya baru membayar uang sewa rumah, setelah senior-senior saya memperpanjang masa sewa rumah itu lagi. Selama saya tinggal bersama dengan senior-senior saya, saya banyak dipermudah di hal-hal lainnya. Kebetulan saya sangat suka jalan-jalan dan plesiran keliling Jogja. Urusan kendaraan saya juga tidak terlalu pusing. Di kontrakan itu dua senior saya membawa motor. Selama senior saya tidak bepergian, motor itu dibebaskan untuk saya pergunakan. Saya senang-senang saja untuk bepergian dengan kendaraan milik senior saya, sampai saya kadang lupa diri tidak pulang-pulang ke kontrakan kebanyakan main dan jalan-jalan, bahkan tak jarang motornya saya bawa menginap di tempat teman-teman saya yang lain. Tapi, yaaaa karena saya ini memang bandel dan tidak tahu diri, tetap saja saya sering jalan-jalan dengan kendaraan senior saya itu. Tapiiiii, alhamdulillahnya senior saya itu baik sekali, mungkin senior saya benar-benar menahan diri untuk tidak marah pada kelakukan saya yang suka menggondol motornya tidak pulang-pulang ke kontrakan. Demikian juga dengan urusan makan. Kebetulan senior-senior saya pada hobi masak semua, sedangkan saya tidak terbiasa masak dan selalu beli makan sebelum tinggal di Jogja. Bagaimana susahnya saya harus beradaptasi di dapur dan harus membiasakan diri sekedar untuk jadi asisten masak senior-senior saya tersebut. Kalaupun saya harus berurusan dengan dapur, saya lebih memilih untuk mencuci piring-piring saja. Saya benar-benar angkatangan dengan urusan dapur. Tapi, lama-kelamaan saya sedikit bisa memasak juga setelah lama belajar mendampingi senior-senior saya di dapur. Tapi, ketika saya bisa sedikit masak maka makanan yang bisa saya masak itu akan terus saya ulang-ulang sampai akhirnya masakan yang saya buat itu tak termakan juga ketika saya yang memasak. Saya kurang begitu menguasai banyak  menu makanan. Saya hanya senang memasak tumis, kering tempe dan yang mudah-mudah saja. Tapi, kalau masakannya sudah aneh-aneh dan banyak bumbunya saya pusing dan dapur sering membuat saya stres sampai sekarang ini. Jadi, kalau senior-senior saya pada masak makanan yang rumit, saya lebih memilih mencuci piring dan mencuci yang bisa dicuci, itupun ketika saya tidak terjangkit penyakit malas yang kerap melanda. Jadi, selama saya tinggal bersama senior saya, saya lebih sering dimanjakan oleh senior-senior saya, sampai akhirnya saya jadi kalangkabut ketika senior-senior saya pada lulus dan sedang akan lulus.