Awal datang ke Jogja untuk lanjut
kuliah lagi salah satu faktor pendorongnya juga melihat senior-senior saya di
S-1 mampu melanjutkan kuliah lagi ke
jenjang S-2. Ada tiga senior saya yang melanjutkan kuliah lagi. Ketika saya di S-1
saya hanya mengenal salah satu dari mereka. Dua senior saya satunya hanya saya
dengar namanya tapi tidak pernah bertemu selama kuliah di S-1. Tiga senior saya
mengambil jurusan yang berbeda-beda. Ada yang mengambil jurusan ilmu
komunikasi, ada antropologi dan ada yang ilmu pariwisata. Saya menjadi akrab
dengan senior-senior saya, karena selama masa riwa-riwi pendaftaran, saya
selalu singgah di tempat senior-senior saya. Hubungan saya dan senior-senior
saya menjadi lebih akrab lagi, ketika saya dinyatakan diterima di program
pascarsarjana dan saya masih belum jelas tinggal dimana akhirnya saya memilih
untuk singgah lagi di tempat senior-senior saya.
Senior-senior saya yang sudah
menetap duluan di Jogja saat itu sudah mengontrak rumah. Dimana rumah yang dikontrak
oleh senior saya saat itu hanya ada dua kamar, satu ruang tamu dan satu ruang
khusus untuk lemari-lemari pakain dan kardus-kardus saja. Satu kontrakan saat
itu dihuni oleh empat orang. Kebetulan selain tiga senior saya yang tinggal di
kontrakan itu ada salah satu senior juga akan tetapi berbeda kuliah S-1nya.
Mbak yang berbeda kuliah S-1nya berasal dari Pekan Baru yang sama-sama sudah
mengambil program pascasarjana. Ketika awal saya datang ke kontrakan itu,
awalnya hanya sementara saja untuk tinggal disitu sambil mencari kos-kosan yang
cocok. Saya juga merasa tidak enak apabila hanya membuat sesak dan konsentrasi
belajar senior saya terganggu karena keberadaan saya ada disitu. Akan tetapi,
selama beberapa hari saya menumpang di kontrakan senior saya dan mencari
kos-kosan, saya masih belum saja cocok dengan kos-kosan yang ada di dekat
kampus. Salah satu penyebabnya, harga kos-kosan di dekat kampus harganya lumayan
agak mahal. Kedua, saya membayangkan tinggal di kos-kosan seorang diri betapa
membosankannya, ketika saya masih terbiasa dengan kebiasaan saya yang selalu
berkelompok. Akhirnya, senior-senior saya juga tidak membiarkan saya tinggal di
kos-kosan sendirian. Senior-senior saya menyuruh saya untuk tinggal
bersama di kontrakan itu. Kebetulan,
kontrakan itu memiliki ruang tamu yang cukup luas, sehingga kamar hanya
difungsikan untuk istirahat saja dan sekedar ingin bermalas-malasan saja.
Senior-senior saya lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang tamu untuk
sekedar membaca, mengetik atau mengerjakan sesuatu lainnya. Kalaupun senior
saya mengerjakan beberapa urusannya di kamar, biasanya ketika seorang diri saja
ataupun ketika sudah bosan mengerjakan di ruang tamu. Kebetulan selama saya
tinggal disitu saya hanya mengganti uang listrik saja. Itupun, uang listrik
habisnya hanya sedikit sekali, satu bulan hanya mengeluarkan uang sekitar 70
ribuan saja paling mahalnya. Saya tidak membayar uang kontrakan hampir satu
semesteran kurang. Kebetulan senior-senior saya tidak mau diganti uang sewa
rumahnya, karena dua dari senior saya mendapatkan beasiswa, jadi untuk urusan
rumah dapat dana hibah dari senior-senior saya itu. Saya baru membayar uang
sewa rumah, setelah senior-senior saya memperpanjang masa sewa rumah itu lagi.
Selama saya tinggal bersama dengan senior-senior saya, saya banyak dipermudah
di hal-hal lainnya. Kebetulan saya sangat suka jalan-jalan dan plesiran
keliling Jogja. Urusan kendaraan saya juga tidak terlalu pusing. Di kontrakan
itu dua senior saya membawa motor. Selama senior saya tidak bepergian, motor
itu dibebaskan untuk saya pergunakan. Saya senang-senang saja untuk bepergian
dengan kendaraan milik senior saya, sampai saya kadang lupa diri tidak
pulang-pulang ke kontrakan kebanyakan main dan jalan-jalan, bahkan tak jarang
motornya saya bawa menginap di tempat teman-teman saya yang lain. Tapi, yaaaa
karena saya ini memang bandel dan tidak tahu diri, tetap saja saya sering
jalan-jalan dengan kendaraan senior saya itu. Tapiiiii, alhamdulillahnya senior
saya itu baik sekali, mungkin senior saya benar-benar menahan diri untuk tidak
marah pada kelakukan saya yang suka menggondol motornya tidak pulang-pulang ke
kontrakan. Demikian juga dengan urusan makan. Kebetulan senior-senior saya pada
hobi masak semua, sedangkan saya tidak terbiasa masak dan selalu beli makan
sebelum tinggal di Jogja. Bagaimana susahnya saya harus beradaptasi di dapur dan
harus membiasakan diri sekedar untuk jadi asisten masak senior-senior saya
tersebut. Kalaupun saya harus berurusan dengan dapur, saya lebih memilih untuk
mencuci piring-piring saja. Saya benar-benar angkatangan dengan urusan dapur.
Tapi, lama-kelamaan saya sedikit bisa memasak juga setelah lama belajar
mendampingi senior-senior saya di dapur. Tapi, ketika saya bisa sedikit masak
maka makanan yang bisa saya masak itu akan terus saya ulang-ulang sampai
akhirnya masakan yang saya buat itu tak termakan juga ketika saya yang memasak.
Saya kurang begitu menguasai banyak menu
makanan. Saya hanya senang memasak tumis, kering tempe dan yang mudah-mudah
saja. Tapi, kalau masakannya sudah aneh-aneh dan banyak bumbunya saya pusing
dan dapur sering membuat saya stres sampai sekarang ini. Jadi, kalau
senior-senior saya pada masak makanan yang rumit, saya lebih memilih mencuci
piring dan mencuci yang bisa dicuci, itupun ketika saya tidak terjangkit
penyakit malas yang kerap melanda. Jadi, selama saya tinggal bersama senior
saya, saya lebih sering dimanjakan oleh senior-senior saya, sampai akhirnya
saya jadi kalangkabut ketika senior-senior saya pada lulus dan sedang akan
lulus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar