Sudah lama sekali saya tidak menuliskan sesuatu di blog ini, bahkan sekedar melihatnya saja sangat menutup rapat-rapat memori-memori di masa lalu. Saya agaka gemetar dan berkaca-kaca mencoba sebisa mungkin untuk menulis disini. Blog ini syukur-syukur masih bisa saya buka, bahkan untuk membuka blog ini saja saya lupa apa kata sandinya saking tidak karu-karuan perasaan saya. Blog ini saya buat saat itu mungkin saya sedang asyik-asyiknya saat menjadi mahasiswa di Madura, atau mungkin tulisan ini berlanjut pada kehidupan saya yang pernah singgah di Pare, Kediri.
Saya bingung harus memulai dari mana ini untuk menulis kembali di blog ini, cuma setidaknya saya coba menulis apa yang bisa saya tuliskan di blog ini. Pagi tadi sebelum saya menulis disini, saya sedang mencari foto-foto lama saya yang setidaknya saya bisa menemukan foto tertawa bebas untuk menutupi kehidupan di masa sekarang yang menurut saya kebebasan tertawa saya sudah saya tindas sendiri. Foto pertama yang saya temukan adalah foto saya ketika saya sedang berada di Madura. Saya melihat foto itu betapa bahagianya saya saat itu bisa mengikuti banyak kegiatan, mengenal alam, mengenal masyarakat dan juga budaya yang ada di Madura.
Saya pernah menempuh masa pendidikan saya di Madura, tetapi semenjak saya ada di Yogyakarta saya ingin menutup kenangan-kenanagan masa lalu di Madura. Mungkin saya orang yang jahat pada diri sendiri dan pada orang-orang terdekat saya yang ada di Madura. Tapi sepertinya cerita yang menyebalkan tentang kenangan Madura bisa saya ceritakan di lain epiosede kalau itu memungkinkan. Sekarang saya cerita saja bagaaimana saya bisa tertawa lepas, bisa tetap menjalankan kewajiban saya sebagai pelajar, bisa sedikit mencicipi pesantren yang satu pesantren ala kemahasiswaan yang satu benar-benar di pesantren yang asli dan totalitas Maduranya.
Kalau waktunya organisasi ya organisasi, kalau waktunya ngaji ya ngaji,kalau ada tugas belajar ya dikerjakan, sepertinya enak banget kalau saya melihat masa lalu saya itu. Padahal kalau dipikir-pikir kegiuatan saya dari kegiatan satunya sering berbenturan dengan peraturan baik yang ada di pesantren, organisasi maupun di bangku akademik. Anehnya kok yo saya bisa lulus, kok yo saya bisa ikut kegiatan, kok yo saya bisa ngaji dikit-dikit. Saya tidak tahu ada berkah apa di Madura sehingga saya bisa melangkahkan kaki saya sampai di titik ini. Kok yo durhaka sekali saya sama Madura kalau di Madura saya begitu mendapatkan tumpah ruah kebahagiaan disana.
Hampir kurang dari dua tahun saya hanya ke Madura dua kali, itupun bukan bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur atas berkah yang saya dapatkan di Madura, tapi saya ke Madura hanya untuk kepentingan-kepentingan lain di luar berkah Madura. Ya, mungkin sekarang ini saya baru tersadar kalau saya tidak mensyukuri atas apa yang sudah saya miliki dan saya dapatkan, ternyata benar adanya Pak. Kok yo saya pontang-panting nyari kebahagiaan, lha wong saya sudah bahagia dari dulu kok. Saya tidak tahu kenapa saya membuka foto-foto saya yang pernah ada di Madura, cuma saya seneng saja, saya sepertinya diingatkan siapa saya dulu, ya meskipun sering bandel, nakal, kurangajar tapi yo tetep wae masih bisa bahagia dan ketawa ngakak yang sudah lama sekali entah dia minggat ke tempat lain.
Ya, untuk hari ini setidaknya saya memungut yang bisa saya pungut dari sisa kebahagiaan yang pernah saya dapatkan di Madura, meskipun saya tidak bisa cerita berat-berat dulu soal budaya, sosial, politik dan linnya. Kepala saya cepat pusing kalau bahas itu, jadi saya bahas Madura dari sesuatu yang bisa saya bahas, meskipun di tulisan ini belum jelas letak istimewanya Maadura dimana dan spesifik Madura yang mebuat bahagia itu seperti apa tak apa-apalah, setidaknya saya sudah berani membuka blog urusan susah dan senang disini. Ok cukup sekian dulu, mohon doanya saya bisa betah dan menemukan kenyamanan yang baru lagi disini. Matursakalangkong Pak (sengko' reng Nganjuk, ajer neng Madura sekuni'-sekuni', nikabahe) hehehe
